
Keluarga Era Muslim yang menulis : Bayu Gautama, Yesi Elsandra, Azimah Rahayu, Asa Muchias, Ummu Shaffa, Ngageni, Hadiana, Ahmad Syauqie,Syaifoel Hardy, Ismi, Husnul Rizka Mubarikah, Ferry Hadary, Eva Deswenti, Farah Adibah, Ary Nur Azizah, Ima Fathia, Fely Alfalah, Ade Dessy, UniSa, Aathierah Azzahra, DH. Devita, Mila Desi Anasanti, Rosanti K Adnan.
Taufiq Ismail kasi kata pengantar dengan judul Jernih, Sederhana dan Mengarukan.
Cuplikannya : Buku Oase Jiwa ini menghimpun 49 buah karangan 24 penulis, yang merupakan kumpulan artikel dalam rubrik Oase Iman di situs www.eramuslim.com. Berbagai tema kehidupan sehari-hari digarap penulis-penulis ini, yang meliputi antara lain hubungan anak dengan ibu dan ayah, empati sosial, pendidikan, iman, maut, kedermawanan, karir, alam – beragam aspek kehidupan dengan detail yang mengakar-rumput. Penulisannya lebih merupakan catatan-catatan ringkas pengalaman dan pengamatan pribadi terhadap sesuatu yang sangat dikenal penulisnya, yaitu peristiwa yang teramat dekat berlangsung di sekitar diri penulisnya – dengan demikian akrab dan tidak terasa direncanakan seperti karya fiksi pada umumnya. Tulisan-tulisna ini jernih, sederhana, jujur dan mengharukan.
Dibagian belakang buku ini :
Semenjak kedua mata ini mampu menyaksikan segala keindahan yang ada,
Semenjak sepasang kaki ini telah mampu berpijak,
Semenjak tangan-tangan ini telah mampu menggapai, menyentuh, dan menggenggam
Semenjak hidung yang bertengger di wajah telah mampu membaui,
Semnejak otak yang mengisi ruang kepala telah mampu memainkan logika,
berpikir, dan mencari alasan untuk segala perbuatan,
Semenjak kedua telinga telah dapat mendengar,
Semenjak hati nurani telah mamou bergetar, tergerak, merasakan, memainkan
Peranannya, Semenjak manusia memiliki hati …
Semenjak itu lah pelajaran dimulai. Dan semestinya, semenjak itu juga setiap manusia
Mengambil hikmah dari apa telah dilaluinya.
Belajar, sesuangguhnya adalah mencoba memahami dan mengambil hikmah dari semua peristiwa yang terlintas, terekam, dan terjadi.
Buat aku sendiri, buku ini sarat makna dan pelajaran hidup. Tentang manusia yang pelupa, tentang hati, dan tentang tawa. Sederhana dan mengingatkan kita bahwa tugas kita sebenernya di dunia ini sebagai khalifah. Bukan sekedar menumpuk keinginan dan kebutuhan pribadi.