Menjadi Manusia Holistik - Pribadi Humanis Sufistik
Yang nulis cewek lho. Jarang banget kan, buku islami yang nulis cewek, cakep lagi.
Mbak Rani Aggraeni Dewi, kelahiran Jakarta, dikenal sebagai praktisi pendidikan dan konselor masalah keluarga, serta aktif memberikan pelatihan pengembangan pribadi.
Mengawinkan Tasawuf dengan Psikologi menurut Haidar Bagir
Dikata pengantarnya, Mbak Rani nulis kalo ‘Manusia merupakan puncak kreativitas Tuhan yang tidak akan pernah habis dibahas dan dikaji, selalu saja menarik untuk dijadikan objek studi.
Segala temuan dan teori yang berkaitan dengan kesejahteraan manusia menjadi rujukan tindakan manusia, khususnya di abad modern sekarang ini. Salah satunya adalah pandangan Psikologi Humanistik yang sangat menjunjung nilai-nilai martabat manusia. Abraham Maslow berpandangan bahwa manusia hendaknya berupaya memenuhi kebutuhan-kebutuhannya sampai pada tingkat kebutuhan yang tertinggi, yaitu kebutuhan akan aktualisasi diri untuk dapat meraih kebahagiaan.
Namun mbak Rani menyadari bahwa kehidupan sekarang semakin kompleks. Manusia berlomba memenuhi kebutuhan dan keinginannya, tapi disisi lain kehidupan jadi ‘kering’. Fenomena kehidupan kayak gini yang perlu ditafakuri untuk menemukan jawaban bagaiman mengembalikan ingatan manusia terhadap peran dan misinya sebagaimana yang disebutkan dalam ayat-ayat penciptaan manusia dalam kitab suci Al-Qur’an.
Di zaman serba modern ini, manusia tidak harus menjalani hidup asketis untuk menjadi seorang sufi. Hakikat kesufian terletak pada kebersihan jiwa, karena bebas dari penyakit hati, tidak berlebihan dalam pemenuhan kebutuhan, dan beribadah hanya karena Allah SWT semata. Oleh karena ini, manusia perlu cara efektif untuk mendapatkan pengetahuan tentang dirinya dan pengembangan pribadi yang lebih holistik, yaitu memadukan pengembangan pribadi model psikologi humanistik (Abraham Maslow) dan pengembangan pribadi metode sufistik (tazkiyyat al-nafs).
Mengaktualisasikan diri dan membersihkan jiwa bagi penulis tidak saja sekadar untuk mewujudkan potensi insaniah yang lahiriah dan batiniah. Namun jauh lebih dari itu, mengadanya kesadaran tinggi akan kehadiran Sang maha Pemberi potensi-potensi itu di dalam diri sehingga pengembangan pribadi holistik adalah suatu proses untuk menjadi manusia yang pengembangan pribadinya lengkap, atau dapat disebut juga suatu proses menjadi manusia holistik, manusia yang berkepribadian humanis dan sufistik.
Baca buku ini ringan dan segar, ga kayak menggurui atau terlalu rumit untuk dipahami buat kita yang baru akan belajar menemukan arti diri kita. Kata Holistik mungkin terdengar berat maknanya buat kita yang telah paham tentang dalamnya ilmu Allah Yang Maha Luas, dan kita pasti ngrasa, ah aku kan ga mau jadi tukang dakwah. Hehehe… Buku nurut aku bersifat membuka…. Membuka wawasan dan hati kita yang ‘akan’ belajar… menarik kok.